IKLAN

24 Mei 2014


TEST

24 Mei 2014


24 Mei 2014


<a href="” title=””>

30 Juni 2012


silahkan download dengan meng-klik tulisan di bawah ini mas bro…………
ASKEP FAEZAL
ASKEP FAEZAL

19 Maret 2011


IGNATIUS PURWO MARGONO SUMITRO

PERCOBAAN KOLOM 1 KOLOM 2 KOLOM 3 KOLOM 4 KOLOM 5
BARIS 2 AAA BBB CCC DDD EEE
BARIS 1 AAA BBB CCC DDD EEE

JAMES BLUNT – 1973

14 April 2010


Simona
You’re getting older
Your journey’s been
Etched on your skin.

Simona
Wish I had know that
What seemed so strong
Has been and gone.

Chrous:
I would call you up every Saturday night
And we’d both stay out ’til the morning light
And we sang “Here we go again.”
And though time comes by
I will always be in a club with you in 1973
Singing “Here we go again.”

Simona
Wish I was sober
So I could see clearly now
The rain has gone.

Simona
I guess it’s over
My memory plays our tune
The same old song.

I would call you up every Saturday night
And we’d both stay out ’til the morning light
And we sang “Here we go again.”
And though time goes by
I will always be in a club with you in 1973
Singing “Here we go again.”

I would call you up every Saturday night
And we’d both stay out ’til the morning light
And we sang “Here we go again.”
And though time goes by
I will always be in a club with you in 1973
Singing “Here we go again.”

I would call you up every Saturday night
And we’d both stay out ’til the morning light
And we sang “Here we go again.”
And though time goes by
I will always be in a club with you in 1973
Singing “Here we go again.”
And though time goes by
I will always be in a club with you in 1973


All I do is dream of you
The whole night through
With the dawn I still go on
Dreamin’ of you

You’re every thought, you’re everything
You’re every song I ever sing
Summer, winter, autumn and spring

And were there more than twenty-four hours a day
They’d be spent in sweet content dreamin’ away

Sky’s are gray, sky’s are blue
Morning, noon and nighttime, too
All I do the whole day through is dream of you

It’s the cat’s meow

All I do the whole day through
Is dream of you


SONG BY JOHN LEGEND
Let’s go to the park
I wanna kiss you underneath the stars
Maybe we’ll go too far
We just don’t care,
We just don’t care,
We just don’t care.

You know I love you when you’re loving me
Sometimes it’s better when it’s publicly
I’m not ashamed, I don’t care who sees
Us hugging & kissing our love exhibition all

We’ll rendezvous out on the fire escape
I’d like to set off an alarm today
The love emergency don’t make me wait
Just follow I’ll lead you
I urgently need you

Let’s go to the park
I wanna kiss you underneath the stars
Maybe we’ll go too far
We just don’t care
We just don’t care
We just don’t

Let’s make love, let’s go somewhere they might discover us
Let’s get lost in lust
We just don’t care,
We just don’t care,
We just don’t care.

I see you closing down the restaurant
Let’s sneak and do it when your boss is gone
Everybody’s leaving we’ll have some fun
Or maybe it’s wrong but you’re turning me on.
Ooh, we’ll take a visit to your Mama’s house
Creep to the bedroom while your Mama’s out
Maybe she’ll hear it when we scream and shout
And we’ll keep it rocking until she comes knocking

Let’s go to the park
I wanna kiss you underneath the stars
Maybe we’ll go too far
We just don’t care,
We just don’t care,
We just don’t…

Let’s make love,
Let’s go somewhere they might discover us.
Let’s get lost in lust
We just don’t care,
We just don’t care,
We just don’t care.

If we keep up on this fooling around
We’ll be the talk of the town
I’ll tell the world I’m in love any time
Let’s open up the blinds ’cause we really don’t mind

Ooh I don’t care about the propriety
Let’s break the rules and ignore society
Maybe our neighbors like to spy, it’s true
So what if they watch when we do what we do

Oh, let’s go to the park
I wanna kiss you underneath the stars
Maybe we’ll go too far
We just don’t care,
We just don’t care,
We just don’t…

Let’s make love, let’s go somewhere they might discover us…

KEKURANGAN KALORI PROTEIN

29 November 2008


KEKURANGAN KALORI PROTEIN

I. DEFINISI

Kekurangan kalori protein adalah defisiensi gizi terjadi pada anak yang kurang mendapat masukan makanan yang cukup bergizi, atau asupan kalori dan protein kurang dalam waktu yang cukup lama (Ngastiyah, 1997).

Kurang kalori protein (KKP) adalah suatu penyakit gangguan gizi yang dikarenakan adanya defisiensi kalori dan protein dengan tekanan yang bervariasi pada defisiensi protein maupun energi (Sediatoema, 1999).

II. KLASIFIKASI KKP

Berdasarkan berat dan tidaknya, KKP dibagi menjadi:

v KKP ringan/sedang disebut juga sebagai gizi kurang (undernutrition) ditandai oleh adanya hambatan pertumbuhan.

v KKP berat, meliputi:

Ø Kwashiorkor

Ø Marasmus

Ø Marasmik-kwashiorkor.

1. Kwashiorkor

a. Pengertian

w Adalah bentuk kekurangan kalori protein yang berat, yang amat sering terjadi pada anak kecil umur 1 dan 3 tahun (Jelliffe, 1994).

w Kwashiorkor adalah suatu sindroma klinik yang timbul sebagai suatu akibat adanya kekurangan protein yang parah dan pemasukan kalori yang kurang dari yang dibutuhkan (Behrman dan Vaughan, 1994).

w Kwashiorkor adalah penyakit gangguan metabolik dan perubahan sel yang menyebabkan perlemahan hati yang disebabkan karena kekurangan asupan kalori dan protein dalam waktu yang lama (Ngastiyah, 1997).

b. Etiologi

Penyebab utama dari kwashiorkor adalah makanan yang sangat sedikit mengandung protein (terutama protein hewani), kebiasaan memakan makanan berpati terus-menerus, kebiasaan makan sayuran yang mengandung karbohidrat.

Penyebab kwashiorkor yang lain yaitu:

w Adanya pemberian makanan yang buruk yang mungkin diberikan oleh ibu karena alasan: miskin, kurang pengetahuan, dan adanya pendapat yang salah tentang makanan.

w Adanya infeksi, misalnya:

- Diare akan mengganggu penyerapan makanan.

- Infeksi pernapasan (termasuk TBC dan batuk rejan) yang menambah kebutuhan tubuh akan protein dan dapat mempengaruhi nafsu makan.

w Kekurangan ASI.

c. Manifestasi Klinik

Tanda-tanda Klinik kwashiorkor berbeda pada masing-masing anak di berbagai negara, dan dibedakan menjadi 3, yaitu:

1) Selalu ada

Gejala ini selalu ada dan seluruhnya membutuhkan diagnosa pada anak umur 1-3 tahun karena kemungkinan telah mendapat makanan yang mengandung banyak karbohidrat.

a Kegagalan pertumbuhan.

a Oedema pada tungkai bawah dan kaki, tangan, punggung bawah, kadang-kadang muka.

a Otot-otot menyusut tetapi lemak di bawah kulit disimpan.

a Kesengsaraan

Sukar diukur, dengan gejala awal anak menjadi rewel diikuti dengan perhatian yang kurang.

2) Biasanya ada

Satu atau lebih dari tanda ini biasanya muncul, tetapi tidak satupun yang betul-betul memerlukan diagnosis.

a Perubahan rambut

Warnanya lebih muda (coklat, kemerah-merahan, mendekati putih), lurus, jarang halus, mudah lepas bila ditarik.

a Warna kulit lebih muda

a Tinja lebih encer

Akibat gangguan penyerapan makanan, terutama gula.

a Anemia yang tidak berat

Jika berat biasanya ada kemungkinan infeksi cacing atau malaria.

3) Kadang-kadang ada

Satu atau lebih dari gejala berikut kadang-kadang muncul, tetapi tidak ada satupun yang betul-betul membentuk diagnosis.

- Ruam/bercak-bercak berserpih.

- Ulkus dan retakan.

- Tanda-tanda vitamin

Misalnya luka di sudut mulut, lidah berwarna merah terang karena kekurangan riboflavin.

- Pembesaran hati

Akibat perlemahan hati.

(Menurut Jelliffe, 1994)

Tanda-tanda yang lain yaitu:

- Secara umum anak nampak sembab, letargik, cengeng, dan mudah terserang. Pada tahap lanjut anak menjadi apatik, sopor atau koma.

- Pertumbuhan yang terhambat, berat badan dan tinggi badan lebih rendah dibandingkan dengan berat badan baku. Jika ada edema anasarka maka penurunan berat badan tidak begitu mencolok.

- Edema

- Jaringan otot mengecil dengan tonusnya yang menurun, jaringan subkutan tipis dan lembek.

- Kelainan gastrointestinal yang mencolok adalah anoreksia dan diare.

- Rambut berwarna pirang, berstruktur kasar dan kaku, serta mudah dicabut.

- Kelainan kulit: kering, bersisik dengan garus-garis kulit yang dalam dan lebar, disertai denitamin B kompleks, defisiensi eritropoetin dan kerusakan hati.

- Anak mudah terjangkit infeksi akibat defisiensi imunologik (diare, bronkopneumonia, faringotonsilitis, tuberkulosis).

- Defisiensi vitamin dan mineral.

Defisiensi vitamin A, riboflavin (stomatitis angularis), anemia defisiensi besi dan anemia megaloblastik.

(Markum, AH, 1999)

d. Patofisiologi

Defisiensi protein

Gangguan metabolik

Asam amino esensial

Produksi insulin

Asam amino dalam serum

Hepar

Produksi albumin

Gangguan pembentukan beta-lipoprotein

Timbunan lemak

Edema

2. Marasmus

a. Pengertian

w Marasmus adalah penyakit yang timbul karena kekurangan energi (kalori) sedangkan kebutuhan protein relatif cukup (Ngastiyah, 1997).

w Marasmus merupakan gambaran KKP dengan defisiensi energi yang ekstrem (Sediaoetama, 1999).

b. Etiologi

Penyebab marasmus yang paling utama adalah karena kelaparan. Kelaparan biasanya terjadi pada kegagalan menyusui, kelaparan karena pengobatan, kegagalan memberikan makanan tambahan.

c. Manifestasi Klinik

Tanda-tanda marasmus dibedakan menjadi 2, yaitu:

1) Selalu ada

Tanda-tanda ini selalu ada dan seluruhnya membutuhkan diagnosa:

- Gangguan perkembangan

- Hilangnya lemak di otot dan di bawah kulit.

2) Kadang-kadang ada

- Mencret/diare atau konstipasi.

- Perubahan pada rambut, seperti pada kwashiorkor.

- Tanda-tanda dari defisiensi vitamin.

- Dehidrasi.

(Jelliffe, 1994)

Tanda dan Gejala yang lain yaitu:

a) Anak menjadi cengeng, sering bangun tengah malam.

b) Turgor kulit rendah dan kulitnya nampak keriput.

c) Pipi terlihat kempot.

d) Vena superfisialis tampak lebih jelas.

e) Ubun-ubun besar cekung.

f) Tulang dagu dan pipi kelihatan menonjol.

g) Mata tampak besar dan dalam.

h) Sianosis.

i) Ekstremitas dingin.

j) Perut buncit/cekung dengan gambaran usus jelas.

k) Atrofi otot.

l) Apatis.

m) Bayi kurus kering.

d. Patofisiologi

Defisiensi kalori

Energi

Pemenuhan kebutuhan kurang

Sintesis glukosa

Metabolit esensial

Cadangan protein

Asam amino

Homeostatik

3. Marasmik – Kwashiorkor

a. Pengertian

w Marasmik – kwashiorkor merupakan kelainan gizi yang menunjukkan gejala klinis campuran antara marasmus dan kwashiorkor. (Markum, 1996)

w Marasmik – kwashiorkor merupakan malnutrisi pada pasien yang telah mengalami kehilangan berat badan lebih dari 10%, penurunan cadangan lemak dan protein serta kemunduran fungsi fisiologi. (Graham L. Hill, 2000).

w Marasmik – kwashiorkor merupaan satu kondisi terjadinya defisiensi, baik kalori, maupun protein. Ciri-cirinya adalah dengan penyusutan jaringan yang hebat, hilangnya lemak subkutan dan dehidrasi. (http.www.yahoo.com. Search engine by keywords: malnutrisi pada anak)

b. Etiologi

Penyebab dari marasmik – kwashiorkor sama pada marasmus dan kwashiorkor.

c. Patofisiologi

Perubahan cairan tubuh, lemak, mineral dan protein

Pertumbuhan terhenti

Berat badan turun

Cairan tubuh meningkat

Sistem hemotopatik

Mukosa usus

Selasiner

Hati

Otak

Edema

Apatis

III. ETIOLOGI

Penyebab langsung dari KKP adalah defisiensi kalori protein dengan berbagai tekanan, sehingga terjadi spektrum gejala-gejala dengan berbagai nuansa dan melahirkan klasifikasi klinik (kwashiorkor, marasmus, marasmus kwashiorkor).

Penyebab tak langsung dari KKP sangat banyak sehingga penyakit ini disebut sebagai penyakit dengan causa multifactoral.

Berikut ini merupakan sistem holistik penyebab multifactoral menuju ke arah terjadinya KKP.

Ekonomi negara rendah

Pendidikan umum kurang

Produksi bahan pangan rendah

Hygiene rendah

Pekerjaan rendah

Pasca panen kurang baik

Sistem perdagangan dan distribusi tidak lancar

Daya beli rendah

Persediaan pangan kurang

Penyakit infeksi dan investasi cacing

Konsumsi kurang

Absorpsi terganggu

Utilisasi terganggu

K K P

Pengetahuan gizi kurang

Anak terlalu banyak

Kwashiorkor Marasmus

Marasmic – kwashiorkor

(Sediaoetoma, A. Djaeni, 1999)

IV. MANIFESTASI KLINIK

Tanda-tanda dari KKP dibagi menjadi 2 macam yaitu:

  1. KKP Ringan

- Pertumbuhan linear terganggu.

- Peningkatan berat badan berkurang, terhenti, bahkan turun.

- Ukuran lingkar lengan atas menurun.

- Maturasi tulang terlambat.

- Ratio berat terhadap tinggi normal atau cenderung menurun.

- Anemia ringan atau pucat.

- Aktifitas berkurang.

- Kelainan kulit (kering, kusam).

- Rambut kemerahan.

  1. KKP Berat

- Gangguan pertumbuhan.

- Mudah sakit.

- Kurang cerdas.

- Jika berkelanjutan menimbulkan kematian

(Pudjiadi, 1990)

V. EPIDEMIOLOGI

Penyakit KKP merupakan bentuk malnutrisi yang terdapat terutama pada anak-anak dibawah umur 5 tahun dan kebanyakan di negara-negara yang sedang berkembang. Berdasarkan hasil penyelidikan di 254 desa di seluruh Indonesia, Tarwotjo, dkk (1999), memperkirakan bahwa 30 % atau 9 juta diantara anak-anak balita menderita gizi kurang, sedangkan 3% atau 0,9 juta diantara anak-anak balita menderita gizi buruk. Berdasarkan “Rekapitulasi Data Dasar Desa Baru UPGK 1982/1983” menunjukkan bahwa prevalensi penderita KKP di Indonesia belum menurun. Hasil pengukuran secara antropometri pada anak-anak balita dari 642 desa menunjukkan angka-angka sebagai berikut: diantara 119.463 anak balita yang diukur, terdapat status gizi baik 57,1%, gizi kurang 35,9%, dan gizi buruk 5,9%.

Tingginya prevalensi penyakit KKP disebabkan pula oleh faktor tingginya angka kelahiran. Menurun Morley (1968) dalam studinya di Nigeria, insidensi kwashiorkor meninggi pada keluarga dengan 7 anak atau lebih. Studi lapangan yang dilakukan oleh Gopalan (1964) pada 1400 anak prasekolah menunjukkan bahwa 32% diantara anak-anak yang dilahirkan sebagai anak keempat dan berikutnya memperlihatkan tanda-tanda KKP yang jelas, sedangkan anak-anak yang dilahirkan terlebih dahulu hanya 17% memperlihatkan gejala KKP. Ia berkesimpulan bahwa 62% dari semua kasus kekurangan gizi pada anak prasekolah terdapat pada anak-anak keempat dan berikutnya.

Mortalitas KKP berat dimana-mana dilaporkan tinggi. Hasil penyelidikan yang dilakukan pada tahun 1955/1956 (Poey, 1957) menunjukkan angka kematian sebanyak 55%, 35% diantara mereka meninggal dalam perawatan minggu pertama, dan 20% sesudahnya.

Menurut WHO, 150 juga anak berumur di bawah 5 tahun menderita KKP dan 49% dari 10,4 juga anak berumur di bawah 5 tahun meninggal karena KKP yang kebanyakan terjadi di negara-negara yang sedang berkembang.

VI. KOMPLIKASI

1. Defisiensi vitamin A (xerophtalmia)

Vitamin A berfungsi pada penglihatan (membantu regenerasi visual purple bila mata terkena cahaya).

Jika tidak segera teratasi ini akan berlanjut menjadi keratomalasia (menjadi buta).

2. Defisiensi Vitamin B1 (tiamin) disebut Atiaminosis.

Tiamin berfungsi sebagai ko-enzim dalam metabolisme karbohidrat. Defisiensi vitamin B1 menyebabkan penyakit beri-beri dan mengakibatkan kelainan saraf, mental dan jantung.

3. Defisiensi Vitamin B2 (Ariboflavinosis)

Vitamin B2/riboflavin berfungsi sebagai ko-enzim pernapasan. Kekurangan vitamin B2 menyebabkan stomatitis angularis (retak-retak pada sudut mulut, glositis, kelainan kulit dan mata.

4. Defisiensi vitamin B6 yang berperan dalam fungsi saraf.

5. Defisiensi Vitamin B12

Dianggap sebagai faktor anti anemia dalam faktor ekstrinsik. Kekurangan vitamin B12 dapat menyebabkan anemia pernisiosa.

6. Defisit Asam Folat

Menyebabkan timbulnya anemia makrositik, megaloblastik, granulositopenia, trombositopenia.

7. Defisiensi Vitamin C

Menyebabkan skorbut (scurvy), mengganggu integrasi dinding kapiler. Vitamin C diperlukan untuk pembentukan jaringan kolagen oleh fibroblas karena merupakan bagian dalam pembentukan zat intersel, pada proses pematangan eritrosit, pembentukan tulang dan dentin.

8. Defisiensi Mineral seperti Kalsium, Fosfor, Magnesium, Besi, Yodium

Kekurangan yodium dapat menyebabkan gondok (goiter) yang dapat merugikan tumbuh kembang anak.

9. Tuberkulosis paru dan bronkopneumonia.

10. Noma sebagai komplikasi pada KEP berat

Noma atau stomatitis merupakan pembusukan mukosa mulut yang bersifat progresif sehingga dapat menembus pipi, bibir dan dagu. Noma terjadi bila daya tahan tubuh sedang menurun. Bau busuk yang khas merupakan tanda khas pada gejala ini.

VII. PENATALAKSANAAN

Prinsip pengobatan MEP adalah:

1) Memberikan makanan yang mengandung banyak protein bernilai biologik tinggi, tinggi kalori, cukup cairan, vitamin dan mineral.

2) Makanan harus dihidangkan dalam bentuk yang mudah dicerna dan diserap.

3) Makanan diberikan secara bertahap, karena toleransi terhadap makanan sangat rendah. Protein yang diperlukan 3-4 gr/kg/hari, dan kalori 160-175 kalori.

4) Antibiotik diberikan jika anak terdapat penyakit penyerta.

5) Tindak lanjut berupa pemantauan kesehatan penderita dan penyuluhan gizi terhadap keluarga.

Dalam keadaan dehidrasi dan asidosis pedoman pemberian cairan parenteral adalah sebagai berikut:

1) Jumlah cairan adalah 200 ml/kgBB/hari untuk kwashiorkor atau marasmus kwashiorkor, dan 250 ml/kg BB/hari untuk marasmus.

2) Jenis cairan yang dipilah adalah Darrow-glukosa aa dengan kadar glukosa dinaikkan menjadi 10% bila terdapat hipoglikemia.

3) Cara pemberiannya adalah sebanyak 60 ml/kg BB diberikan dalam 4-8 jam pertama, kemudian sisanya diberikan dalam waktu 16-20 jam berikutnya.

Makanan tinggi energi tinggi protein (TETP) diolah dengan kandungan protein yang dianjurkan adalah 3,0-5,0 gr/kg BB dan jumlah kalori 150-200 kkal/kg BB sehari.

Asam folat diberikan per oral dengan variasi dosis antara 3×5 mg/hari pada anak kecil dan 3×15 mg/hari pada anak besar. Kebutuhan kalium dipenuhi dengan pemberian KCL oral sebanyak 75-150mg/kg BB/hari (ekuivalen dengan 1-2 mEq/kg BB/hari); bila terdapat tanda hipokalemia diberikan KCl secara intravena dengan dosis intramuskular atau intravena dalam bentuk larutan MG-sulfat 50% sebanyak 0,4-0,5 mEq/kgBB/hari selama 4-5 hari pertama perawatan.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN KEKURANGAN KALORI PROTEIN (KKP)

I. PENGKAJIAN

1. Pemeriksaan Fisik

1) Kaji tanda-tanda vital.

2) Kaji perubahan status mental anak, apakah anak nampak cengeng atau apatis.

3) Pengamatan timbulnya gangguan gastrointestinal, untuk menentukan kerusakan fungsi hati, pankreas dan usus.

4) Menilai secara berkelanjutan adanya perubahan warna rambut dan keelastisan kulit dan membran mukosa.

5) Pengamatan pada output urine.

6) Penilaian keperawatan secara berkelanjutan pada proses perkembangan anak.

7) Kaji perubahan pola eliminasi.

Gejala : diare, perubahan frekuensi BAB.

Tanda : lemas, konsistensi BAB cair.

8) Kaji secara berkelanjutan asupan makanan tiap hari.

Gejala : mual, muntah.

Tanda : penurunan berat badan.

9) Pengkajian pergerakan anggota gerak/aktivitas anak dengan mengamati tingkah laku anak melalui rangsang.

2. Pemeriksaan Penunjang

1) Pemeriksaan Laboratorium

- Pemeriksaan darah tepi memperlihatkan anemia ringan sampai sedang, umumnya berupa anemia hipokronik atau normokromik.

- Pada uji faal hati tampak nilai albumin sedikit atau amat rendah, trigliserida normal, dan kolesterol normal atau merendah.

- Kadar elektrolit K rendah, kadar Na, Zn dan Cu bisa normal atau menurun.

- Kadar gula darah umumnya rendah.

- Asam lemak bebas normal atau meninggi.

- Nilai beta lipoprotein tidak menentu, dapat merendah atau meninggi.

- Kadar hormon insulin menurun, tetapi hormon pertumbuhan dapat normal, merendah maupun meninggi.

- Analisis asam amino dalam urine menunjukkan kadar 3-metil histidin meningkat dan indeks hidroksiprolin menurun.

- Pada biopsi hati hanya tampak perlemakan yang ringan, jarang dijumpai dengan kasus perlemakan berat.

- Kadar imunoglobulin serum normal, bahkan dapat meningkat.

- Kadar imunoglobulin A sekretori rendah.

- Penurunan kadar berbagai enzim dalam serum seperti amilase, esterase, kolin esterase, transaminase dan fosfatase alkali. Aktifitas enzim pankreas dan xantin oksidase berkurang.

- Defisiensi asam folat, protein, besi.

- Nilai enzim urea siklase dalam hati merendah, tetapi kadar enzim pembentuk asam amino meningkat.

2) Pemeriksaan Radiologik

Pada pemeriksaan radiologik tulang memperlihatkan osteoporosis ringan.

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan inadekuatnya intake makanan.

Intervensi:

- Kaji status nutrisi secara kontinu, selama perawatan setiap hari.

Rasional: Memberikan kesempatan untuk mengobservasi penyimpangan dari normal.

- Berikan makanan sedikit-sedikit dan makanan kecil tambahan yang tepat.

Rasional: Meningkatkan nafsu makan dan memampukan pasien untuk mempunyai pilihan terhadap makanan yang dapat dinikmati.

- Timbang berat badan anak tiap hari.

Rasional: Pengawasan kehilangan nutrisi dan alat pengkajian kebutuhan nutrisi.

- Dokumentasikan masukan oral selama 24 jam, riwayat makanan, jumlah kalori dengan tepat.

Rasional: Mengidentifikasi ketidakseimbangan antara perkiraan kebutuhan nutrisi dan masukan.

- Berikan terapi nutrisi dalam program pengobatan rumah sakit sesuai indikasi.

Rasional: Perawatan di rumah sakit memberikan kontrol lingkungan dimana masukan makanan dapat dipantau.

2. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan inadekuatnya asupan cairan.

Intervensi:

- Catat karakteristik muntah

- Awasi tanda vital, status membran mukosa, turgor kulit.

Rasional: Sebagai indikator inadekuatan volume sirkulasi.

- Awasi masukan dan haluaran dan hubungkan dengan perubahan berat badan.

Rasional: Memberikan pedoman dalam pemberian cairan.

- Awasi jumlah dan tipe masukan cairan, ukur haluaran urine dengan akurat.

Rasional: Mengganti cairan untuk masukan kalori yang berdampak pada keseimbangan elektrolit.

- Identifikasi rencana untuk meningkatkan atau mempertahankan keseimbangan cairan optimal, misalnya: jadwal masukan cairan.

Rasional: Untuk memperbaiki ketidakseimbangan cairan.

- Beriakan cairan parenteral sesuai indikasi.

Rasional: Untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh.

3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan status metabolik.

Intervensi:

- Obervasi adanya kemerahan, pucat, ekskoriasi.

- Gunakan krim kulit 2 kali sehari setelah mandi, pijat kulit, khususnya di daerah di atas penonjolan tulang.

Rasional: Melicinkan kulit dan menurunkan gatal. Pemijatan sirkulasi pada kulit, dapat meningkatkan tonus kulit.

- Pentingnya perubahan posisi sering, perlu untuk mempertahankan aktivitas.

Rasional: Meningkatkan sirkulasi dan perfusi kulit dengan mencegah tekanan lama pada jaringan.

- Tekankan pentingnya masukan nutrisi/cairan adekuat.

Rasional: Perbaikan nutrisi dan hidrasi akan memperbaiki kondisi kulit.

4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan malnutrisi.

Intervensi:

- Pantau vital sign, perhatikan peningkatan suhu, takikardia dengan atau tanpa demam.

Rasional: Peningkatan suhu tubuh, menandakan adanya proses inflamasi atau infeksi, oleh karena itu, membutuhkan evaluasi atau pengobatan lebih lanjut.

- Amati adanya eritema atau cairan luka.

Rasional: Indikator infeksi lokal.

- Berikan antiseptik, antibiotik sistemik.

Rasional: Menurunkan proses infeksi lokal.

III. EVALUASI

1. Masukan kalori, protein adekuat ditandai dengan peningkatan berat badan dan nafsu makan meningkat.

2. Haluaran urine adekuat.

3. Membran mukosa lembab, turgor kulit baik, tidak menunjukkan adanya edema.

4. Kulit halus, elastisitas baik, rasa gatal hilang.

5. Suhu tubuh turun.

6. Pertumbuhan tidak terhambat, tidak ada perubahan pigmen pada rambut atau kulit.

7. Anak ceria, tidak apatis dan tidak cengeng.

DAFTAR PUSTAKA

Catzel, Pincus. 1990. Kapita Selekta Pediatri, Edisi II. Jakarta: EGC.

Hill, Graham L. 2000. Buku Ajar Nutrisi Bedah. Jakarta: Farmamedia.

Jelliffe, DB. 1994. Kesehatan Anak di Daerah Tropis, Edisi IV. Jakarta: Bumi Aksara.

Markum. 1996. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, Jilid I. Jakarta: FKUI.

Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC.

Pudjiadi, Solihin. 2000. Ilmu Gizi Klinis pada Anak, Edisi IV. Jakarta: FKUI.

Sacharin, Rosa M. 1996. Prinsip Keperawatan Pediatrik, Edisi 2. Jakarta: EGC.

Sandra R. 1990. Nursing Care of Children and Families, 2nd Edition. California: A Division of the Benjamin Cummings Publishing Company.

Supariasa, I Dewa Nyoman. 2001. Penilaian Status Gizi. Jakarta: Hipokrates.

Wong’s and Whaley. 1995. Nursing Care of Infant and Children 5th Edition. Missouri: Westline Industrial Drive.

http.www.yahoo.com. Search engine by keywords: malnutrisi pada anak. Accesed at April 7th 2005, 8.00 pm.

Lampiran: Sandra R. 1990. Nursing Care of Children and Families, 2nd Edition. California: A Division of the Benjamin Cummings Publishing Company.

KWASHIORKOR

Pathophisiology and Clinical Manifestation

Pathophysiology of kwashiorkor result in part from deficiency, both in quantity and quality. Since proteins essential for tissue growth and cell repair, all body systems are affected, but rapidly growing cells, such as those of the epitelium and mucous, are most severaly damaged. The skin is scaly and dry and has areas of depigmentasion. Several dermatotes may be devident: partly resulting from the vitamin deficiencies. Permanent blindness results from the severe lack of vitamin A. Immunity is severely affected and is of considerable importance in the development of infections.

Mineral deficiencies are common, especially iron, calcium, and zinc. Acute zinc deficiency is a common complication of severe PEM and results in skin rashes, loss of hair, impaired immune response and susceptibility to infections, digestive problems, night blindness, changes in affective behavior, defective wound healing, and impaired growth. It’s depressant effect on appetite further limits food intake.

With kwashiorkor the hair is thin, dry, coarse, and dull. Depigmentation is common, and patchy alopecia may occur. There is loss of weight in conjunction with generalized edema from the hypoalbuminemia. The edema often masks the severe muscular atrophy, making the children appear less debilitated than they actualli are. Total body water increases, but total body potassium decreases with retention of sodium, causing signs of hypokalemi and hypernatremia.

Diarrhea frequently occurs from a lowered resistance to infection and further complicates the electrolite imbalance gastrointestinal disturbances occur, such as fatty infiltration of the liver and atrophy of the acini cells of the pancreas. Behavioral changes are evident as the child grows progressived more irritable, lethargic, withdrawn, and apathetic.

Fatal deterioration may be caused by diarrhea and infection or as the results of circulatory faillure.

Nursing Management Kwashiorkor

Once the cause of the undernutrition is identified, interventions can be coordinate to provide an adequate and usable dictary intake. The addition of nutries is gradual and fluid, electrolyte and acid has balance is monitored cluscy. The nurse plays a vital role in teaching and supporting the child and family during this transtition to different dietary patterns.

The nurse also provides good skin care, protect the child from infections by using good technique and provides the child with developmentally stimulating activities.

Therapeutic Management

Treatment of kwashiorkor and marasmus include providing a diet high in quality protein and or carbohydrate as well as vitamin and mineral. Electrolyte imbalance requireds immediate attention, and parenteral fluid replacement may be necessary initially to correct the dehydration and restore renal function. An oral rehidration solution (ORS), recommended by the WHO, may be used to correct dehydration (Shils, Olson and Shike, 1994). Occasionally, oral fluid are not tolerated, necessitating the use of hyperalimentation. Coexisting problems such as infection, diarrhea, parasitic infestation and anemia necessirate prompt attention for optimum recovery one recommendation is the addition of psychosocial stimulation to the treatment of severely malnourished children. Along term structured play program involving parents has been shown to result in marked developmental improvement. However, these children continoued to be behind in nutritional status and locomotor development.

Nursing Considerations

Provision of essential physiologic need such as rest, individually tallored activity, and protection from infection is paramount since children are usually weak and withdrawn, they depend on others for feeding. Hygiene may be distressing because of the poor integrity of skin and decubity are a constant threat. Appropriates developmental stimulation should also be provides. A larger problem is prevention of these conditions through education concerning the importance of high quality protein and adequate carbohydrates. Since children with marasmus may suffer from emotional starvation as well, care should be consistent with care of the child with failure to thrive.

Pathophysiology and Clinical Manifestation

Marasmus is characterized by gradual wasting and atrophy of body tissue, especially subcutaneous fat. Children with the condition appear to be very old. Their skin is flabby and wrinkled. Unlike children with kwashiorkor, who appear more rounded from the edema. Fat metabolism is less impaired than in kwashiorkor, so that vitamin A deficiency is usually minimal or absent.

In general, the clinical manifestations of marasmus are similar to ghose seen in kwashiorkor with the following exceptions, with marasmus there is no edema from hypoalbumenia or sodium retention which contributes to a severely emaciated appearance, no dermatoses caused by vitamin deficiencies, little or no depigmentation of hair or skin, moderately normal fat metabolism and lipid absorption and smaller head size and slower recovery following treatmen.

As in kwashiorkor, body metabolism is minimal and maintaning body terperature is complicated by lack or subcuteneous fat. The child is fretful, apathetic, withdrawn, and so lethargic that prostration frequently occurs intercurrent infection with debilitating diseasse such as tuberculosis, parasitosis, and dysentery is common. Severe, chronic malnutrition in infacy result in arreased brain growth and has implications for the child’s future mental capacity.

Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:

KWASHIORKOR

Patofisiologi dan Manifestasi Klinik

Patofisiologi dari kwasiorkor adalah hasil dari defisiensi protein baik kualitas maupun kuantitas. Sejak esensial protein untuk pertumbuhan jaringan dan perbaikan sel, semua sistem tubuh dipengaruhi tetapi dengan cepat sel tumbuh, seperti epitelium dan mukosa, kebanyakan beberapa dirugikan.

Kulitnya bersisik dan kering dan ada area yang berpigmentasi. Beberapa lapisan kulit tidak normal, sebagian terjadi karena kekurangan vitamin. Bercak yang menetap berasal dari kekurangan vitamin A. kekebalan dipengaruhi dan berperan penting dalam pertumbuhan infeksi.

Kekurangan mineral juga umum khususnya besi, kalsium dan zinc. Defisiensi zinc akut biasanya berkomplikasi pada PEM dan hasilnya kulit kemerahan, rambut rontok, kerusakan respon imun dan mudah terpengaruh infeksi, masalah pencemaran, bercak hitam, mengubah kebiasaan yang mempengaruhi, sulit sembuh, dan memperlemah pertumbuhan, menekan nafsu makan yang selanjutnya intake makanan berkurang.

Dengan kwashiorkor rambut menjadi kurus, kering, kasar dan rapuh. Biasanya berpigmentasi terjadi bintik-bintik kebotakan. Kehilangan berat badan bersama dengan edema umum karena hipoalbuminemia. Edema biasa menutupi bagian dari atrofi muskular, membuat anak-anak tidak kelihatan lemah kemudian sesungguhnya mereka ada peningkatan cairan tubuh total, tetapi total potasium tubuh menurun menyebabkan tanda-tanda hipokalemi dan hipernatremi.

Frekuensi diare yang terjadi dari resistensi yang lebih rendah terhadap infeksi dan selanjutnya berkomplikasi pada ketidakseimbangan elektrolit. Terjadi gangguan gastrointestinal seperti infiltrasi lemak oleh hati dan atrofi sel asini pada sel pankreas. Mengubah kebiasaan, terbukti anak dapat tumbuh progresif, mudah tersinggung/rewel, lemah/suka tidur (letargik), menarik diri dan apatis dan keadaan memburuk yang mungkin disebabkan oleh diare dan infeksi atau hasil dari kegagalan sirkulasi.

Nursing Management Kwashiorkor

Salah satu cara untuk mengatasi kekurangan nutrisi adalah identifikasi, intervensi, untuk dapat memantau tindakan yang tidak adekuat dan berguna untuk memantau intake penambahan sedikit nutrisi dan cairan elektrolit dan keseimbangan asam basa dapat termonitor. Perawat berperan penting dalam pendidikan dan motivasi anak dan keluarga. Perawat juga melakukan tindakan perawatan kulit yang baik, melindungi anak dari infeksi dengan menggunakan teknik yang baik dan memberi anak aktivitas stimulasi pertumbuhan.

Management Therapeutik

Tindakan pada kwashiorkor dan marasmus diberikan diet yang mengandung kualitas tinggi protein dan atau karbohidrat sebaik vitamin dan mineral. Ketidakseimbangan elektrolit membutuhkan perhatian sesegera mungkin dan pergantian cairan parenteral segera dibutuhkan untuk mengatasi dehidrasi dan mengembalikan fungsi ginjal. Pemberian rehidrasi oral dianjurkan oleh WHO, mungkin digunakan untuk mengatasi dehidrasi. (Shill, Olson dan Shike, 1994). Terkadang, cairan per oral tidak dapat ditoleransi, dan memaksa menggunakan hiperalimentasi, permasalahan besar seperti infeksi, diare, parasitis dan anemia, memaksa segera menunda untuk kesembuhan optimum.

Satu anjuran ditambahkan stimulasi psikososial pada tindakan untuk beberapa anak malnutrisi. Susunan program bermain pada waktu yang lama melibatkan orang tua untuk menunjukkan hasil dengan ditandai perbaikan perkembangan. Apabila diteruskan, untuk status nutrisi juga membangun lokomotor.

Perencanaan

Persiapan psikologis esensial dibutuhkan seperti istirahat. Penurunan kesibukan aktivitas individu dan perlindungan dari infeksi tinggi. Saat itu anak biasanya lemah dan menarik diri, mereka tergantung pada orang lain untuk makan. Kesulitan kebersihan disebabkan integritas kulit rendah dan dekubitus selalu terjadi. Pemberian stimulasi perkembangan juga harus diberikan.

Masalah yang lebih besar adalah kondisi pencegahan termasuk pentingnya pendidikan konseling tentang protein kualitas tinggi dan karbohidrat yang adekuat.

Anak marasmus mungkin menderita dari dari emosional rendah, perawatan harus konsisten dengan merawat anak dengan gagal berkembang.

Patofisiologi dan Manifestasi Klinis

Marasmus memiliki karakteristik merusak bertahap dan atrofi jaringan tubuh, khususnya lemak subkutan. Anak kondisinya kelihatan seperti tua. Kulit mereka lunak dan berkerut, tidak seperti anak pada kwashiorkor yang kelihatan dipenuhi dengan edema. Metabolisme lemak sangat lemah daripada kwashiorkor, juga defisiensi vitamin A biasanya minimal atau tidak ada.

Pada umumnya, manifestasi klinis dari marasmus hampir sama dengan yang terlihat pada kwashiorkor, kecuali dengan marasmus tidak terjadi edema dari hipoalbuminemia atau retensi sodium yang berkontribusi kelihatan kurus, tidak ada dermatitis karena defisiensi vitamin; sedikit atau tidak ada depigmentasi dari rambut dan kulit, metabolisme lemak normal dan absorbsi protein, dan ukuran kepala lebih kecil dan perbaikan yang lambat.

Seperti juga pada kwashiorkor, metabolisme tubuh minimal dan kesulitan pada pengaturan suhu tubuh oleh kekurangan lemak subkutan. Anak rewel, apatis, menarik diri dan sangat letargik terjadi frekuensi tak berdaya karena injeksi dengan melemahkan penyakitnya seperti tuberkulosis, parasitosis, dan disentri. Biasanya, malnutrisi kronis hasilnya penurunan pertumbuhan otak dan memiliki implikasi pada kapasitas mental masa depan anak.

DIARE

29 November 2008


DIARE

A. PENGERTIAN

Ø Diare adalah buang air besar dengan frekuensi lebih dari 3 kali per hari dengan konsistensi tinja cair bersifat mendadak dan berlangsung dalam waktu kurang dari 2 minggu. (FK UGM, 1994)

Ø Diare adalah keadaan frekuensi buang air besar leibh dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak, konsistensi feses encer dapat berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah atau lendir saja. (Ngastiyah, 1997)

B. ETIOLOGI

Penyebab dari diare dibagi menjadi beberapa faktor:

1. Faktor Infeksi

a. Infeksi enteral

Infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama ada diare yang terjadi pada anak.

Infeksi enteral meliputi:

w Infeksi bakteri (patogen dan apatogen).

- Vorgio cholerae

- Salmonella (melalui makanan/minuman yang tercampur kuman).

- Shigela

- Campylobacter.

- Yersinia

- Aeromonas

w Infeksi virus

Enterovirus (vivus echo, coxcakie, poliomyelitis, adenovirus, rotavirus, astrovirus).

w Infeksi parasit

Cacing ascaris, trichuris, oxyuris, strongiloides, protozoa, entamoeba histolityca, guardia lambia, trichomonas hominis, candida albicans.

b. Infeksi parenteral

Infeksi di luar alat pencernaan makan seperti otitis media acut (OMA), tonsilitis, tonsilofaringitis, bronkopneumonia, ensefalitis. Terutama terdapat pada anak dan bayi di bawah 2 tahun.

2. Faktor Malabsorpsi

a. Malabsorbsi karbohidrat.

Disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa).

b. Malabsorbsi lemak

c. Malabsorbsi protein.

3. Faktor Makanan

Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.

4. Faktor Psikologis

Rasa takut dan cemas

(Ngastiyah, 1997)

C. MANIFESTASI KLINIS

Ø Manifestasi klinis yang terjadi pada klien diare berdasarkan derajat dehidrasi

a. Diare dengan dehidrasi ringan

- Kehilangan cairan 5% berat badan.

- Kesadaran baik (somnolen).

- Mata agak cekung.

- Turgor kulit kurang dan kekenyalan kulit normal.

- Berak cair 1-2 kali perhari.

- Lemah dan haus.

- Ubun-ubun besar agak cekung.

b. Diare dengan dehidrasi sedang

- Kehilangan cairan lebih dari 5-10% berat badan.

- Keadaan umum gelisah.

- Rasa haus (++)

- Denyut nadi cepat dan pernapasan agak cepat.

- Mata cekung

- Turgor dan tonus otot agak berkurang.

- Ubun-ubun besar cekung.

- Kekenyalan kulit sedikit kurang dan elastisitas kembali sekitar 1-2 detik.

- Selaput lendir agak kering.

c. Diare dengan dehidrasi berat

- Kehilangan cairan lebih dari 10% berat badan.

- Keadaan umum dan kesadaran koma atau apatis.

- Denyut nadi cepat sekali.

- Pernapasan kusmaull (cepat dan dalam).

- Ubun-ubun besar cekung sekali.

- Mata cekung sekali.

- Turgor/tonus kurang sekali.

- Selaput lendir kurang/asidosis.

D. PATOFISIOLOGI

Sebagai akibat diare baik akut maupun kronis akan terjadi:

1. Kehilangan air dan elektrolit (terjadi dehidrasi)

Dehidrasi terjadi karena kehilangan air (output lebih banyak daripada input), merupakan penyebab terjadinya kematian pada diare.

2. Gangguan keseimbangan asam basa (asidosis metabolik).

Asidosis metabolik terjadi karena:

a. Kehilangan natrium bikarbonat bersama tinja.

b. Adanya ketosis kelaparan. Metabolisme lemak tidak sempurna sehingga benda keton tertimbun di dalam tubuh.

c. Terjadi penimbunan asam laktat karena adanya anoksia jaringan.

d. Produk metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat dikeluarkan oleh ginjal (terjadi oliguria/anuria).

e. Pemindahan ion Na dari cairan ekstraseluler.

3. Hipoglikemia

Hipoglikemia terjadi pada 2 – 3% pada anak-anak yang menderita diare. Pada orang dengan gizi cukup/baik, hipoglikemia jarang terjadi, lebih sering terjadi pada anak yang sebelumnya pernah menderita KKP.

4. Gangguan gizi

Ketika orang menderita diare, sering terjadi gangguan gizi dengan akibat terjadinya penurunan berat badan dalam waktu singkat. hal ini disebabkan karena makanan yang sering tidak dicerna dan diabsorbsi baik karena adanya hiperperistaltik.

5. Gangguan sirkulasi darah

Sebagai akibat diare dengan/tanpa disertai muntah, dapat terjadi gangguan sirkulasi darah berupa renjatan (syok) hipovolemik. Akibat perfusi jaringan berkurang dan terjadi hipoksia, asidosis bertambah berat, dapat mengakibatkan perdarahan dalam otak, kesadaran menurun dan bila tidak segera ditolong penderita dapat meninggal.

E. PATOGENESIS

Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare:

1. Gangguan Osmotik

Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.

2. Gangguan Sekresi

Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga dan selanjutnya timbul diare karena terdapat peningkatan isi rongga usus.

3. Gangguan Motilitas Usus

Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaiknya pada peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan, selanjutnya juga akan timbul diare.

F. KOMPLIKASI

Akibat diare, kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak dapat terjadi berbagai komplikasi sebagai berikut:

1. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik/hipertonik).

2. Renjatan hipovolemik.

3. Hipokalemia

4. hipoglikemia

5. Intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus dan defisiensi enzim laktase.

6. Kejang terjadi pada dehidrasi hipertonik.

Malnutrisi energi protein (muntah dan diare, jika lama/kronik).

G. PENATALAKSANAAN DIARE

1. Pengobatan Simtomatis

a. Rehidrasi: oralit, cairan infus yaitu Ringer Laktat, Dextrose 5%, Dekstrose dalam Saline.

b. Antispasmodik, anti kholinergik (antagonis stimulus kolinergik pada reseptor muskorinik). Misalnya: pepaverin, mebeverine, propantelin bromid.

c. Obat antidiare

1) Obat anti motilitas dan sekresi usus (Loperamid, difenoksilat, kodeinfosfat.

- Loperamid

- Difenoksilat.

- Kodein fosfat.

2) Oktretoid (sanostatin).

3) Obat antidiare yagn mensekresikan tinja dan absorpsi zat toksik.

d. Antiemetik (metoklopramid, proklorprazin, domperidon).

e. Vitamin B12, asam folat, vitamin A dan K.

f. Obat ekstrak enzim pankreas.

g. Aluminium hidroksida.

h. Fenotiazin dan asam nikotinat, menghambat sekresi anion usus.

2. Pengobatan Kausal

Diberikan pada infeksi maupun noninfeksi pada diare kronik dengan penyebab infeksinya obat diberikan berdasarkan etiologi.

3. Diit

Dalam fase akut biasanya diberikan bubur saring atau lunak kepada pasien dianjurkan untuk minum gula, makan telur asin/ikan asin sebagai pengganti elektrolit yang hilang lewat diare. Biasanya penderita tidak boleh minum susu selama diare.

H. PENCEGAHAN DIARE

Diare dapat dicegah melalui:

1. Pemberian ASI eksklusif pada bayi.

2. Pemberian makanan pendamping ASI yang bersih dan bergizi setelah bayi berumur 4 bulan.

3. Mencuci tangan sebelum makan untuk mengurangi infeksi.

4. Gunakan air.

5. Mencuci tangan dengan teratur.

6. Mendesinfeksi permukaan peralatan rumah tangga.

7. Cuci pakaian kotor dengan segera sampai bersih.

8. Hindari makanan dan air yang terkontaminasi.

I. PENULARAN DIARE

Penyakit diare dapat ditularkan melalui:

1. Pemakaian botol susu yang tidak bersih.

2. Menggunakan sumber air yang tercemar.

3. BAB sembaran tempat.

4. Pencemaran makanan oleh serangga (lalat, kecoa) atau oleh tangan kotor.

5. Fecal oral melalui makanan dan minuman yang tercemar.

6. Melalui makanan yang terkontaminasi oleh penyaji makanan yang mengidap viral gastroenteritis bahkan diperkuat bila orang tersebut tidak mencuci tangannya secara teratur setelah menggunakan kamar mandi.

7. Mengkonsumsi ikan mentah atau tidak dimasak yang diambil dari air yang terkontaminasi.

8. Kontak langsung dengan orang yang terinfeksi virus, misalnya dengan makan dan minum bersama atau menggunakan peralatan makan yang sama dengan orang yang terinfeksi virus diare.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN

DIARE AKUT DEHIDRASI SEDANG

A. PENGKAJIAN

1. Riwayat Perjalanan Penyakit (Doengoes, Richard, 2000, 1992)

Perlu ditanyakan kepada orang tua penderita mengenai riwayat perjalanan penyakit antara lain:

- Saat mulai diare.

- Lamanya sakit/diare (sudah beberapa jam, hari).

- Frekuensinya (berapa kali sehari).

- Banyaknya/volumenya (berapa banyak setiap kali buang air besar, misal berapa banyak/sendok/gelas dan sebagainya.

- Baunya (amis, busuk dan sebagainya).

- Ada tidaknya batuk, panas, pilek dan kejang (sebelum, selama atau sesudah diare).

- Jenis, bentuk dan banyaknya makanan dan minuman, sebelum dan sesudah sakit.

- Berat badan sebelum, selama, sesudah sakit.

- Untuk mengetahui berat badan dapat dilakukan dengan pemeriksaan antropometri (tinggi badan, berat badan, lingkar kepala).

2. Kaji Keadaan Umum

- Kesadaran menurun.

- Rasa haus.

3. Kaji sirkulasi

- Nadi cepat

- Turgor kulit buruk

- Mukosa kering

- Bibir pecah-pecah.

4. Kaji respirasi

5. Kaji tanda dehidrasi

- Ubun-ubun cekung

- Mata lebih cekung.

- Turgor dan tonus kurang baik.

- Diuresis lebih sedikit.

- Selaput lendir lebih kering.

Pemeriksaan Fisik

1. Riwayat dan pemeriksaan fisik menurut Behrman, Richard E, 1998:

- Keluhan utama diare, harus ditentukan terlebih dahulu akan kebenaran dan ketepatannya (peningkatan jumlah, volume dan keenceran tinja yang dikeluarkan).

- Riwayat adanya darah atau lendir dalam tinja.

2. Perasaan nyeri dalam abdomen tenesmus

- Demam

- Massa di abdomen

- Penurunan berat badan

- Mengkonsumsi produk dari susu, daging atau air ayng tercemar.

- Tingkat dehidrasi yang dialami dan derajat kesadaran penderita harus digambarkan secara spesifik.

3. Ada tidaknya artralgia, artritis, ruam-ruam kulit dan bradikardia juga dapat memberi petunjuk tentang diagnosis, etioogi. Temuan-temuan ini yang digabungkan dengan riwayat pemasukan cairan, frekuensi pengeluaran tinja dan penilaian pengeluaran urine menentukan apakah penderita memerlukan perawatan di rumah sakit atau tidak.

Pemeriksaan Laboratorium

1. Pemeriksaan Tinja

- Makroskopis dan mikroskopis.

- Biakan kuman terhadap berbagai antibiotik.

- pH dan kadar gula jika diduga ada sugar intolerance.

Pemeriksaan pH tinja, kandungan glukosa dalam tinja dan konsentrasi klorida dalam tinja. Jika kadar glukosa tinja rendah atau pH kurang dari 5,5, maka penyebab diare bersifat tidak menular/perlu dipertimbangkanpH tinja yang rendah dapat ditemukan pula pada anak-anak dengan defisiensi laktase akuisite yang terjadi setelah suatu infeksi diare persisten.

2. Pemeriksaan Darah

- Darah lengkap

Jumlah total dan hitung jenis leukosit mungkin normal, meningkat atau menurun tetapi lebih dari 50% penderita mempunyai 10-40% leukosit batang pada penghitungan jenis.

- Leukosit dapat ditemukan dengan mencampurkan sedikit tinja dengan 1 – 2 tetes metilen biru: pada umumnya leukosit tidak dapat ditemukan jika diare berhubungan dengan penyakit usus kecil tetap ditemukan pada penderita Salmonelosis, E. coli, enteroinvasif, shigelosis, enterokolitis stafilokokus (enteritis regional), kolitis ulserativa dan kolitis pseudomembranosa.

- PH cadangan alkali dan elektrolit untuk menentukan gangguan keseimbangan asam basa.

3. Duodenal Intubation

Untuk mengetahui kuman penyebab secara kuantitatif dan kualitatif.

4. Kehilangan klorida lebih sering terjadi pada kolera, kehilangan klorida lebih dari 90 M ek/l pada tinja setelah penggantian cairan elektrolit menunjukkan adanya klorida bawaan.

Pathway Keperawatan

Bakteri patogen

Makanan dan air

Masuk ke saluran gastrointestinal

Terjadi infeksi saluran pencernaan

Peningkatan motilitas usus/hiperperistaltik

Infeksi mukosa usus halus terjadi

Mual/muntah

Gangguan pencernaan secara enzimatis

Gangguan pada defekasi

Diare

Feses mengandung asam laktat

Gangguan integritas kulit

Diet, pengobatan, perawatan

Dampak hospitalisasi

Anoreksia

Nutrisi kurang dari kebutuhan

Kurang volume cairan dari kebutuhan

Asidosis metabolik

Syok hipovolemik

Kurang pengetahuan

Kurang aktifitas hiburan

Demam

Peningkatan suhu tubuh

Dehidrasi

Kehilangan cairan dan elektrolit

Kurang informasi tentang perawatan dan pengetahuan

Ansietas

(Resepno, Hasan, 1985; Ngastiyah, 1997)

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Gangguan eliminasi (BAB lebih dari normal) berhubungan dengan inflamasi, malabsorbsi usus, ditandai dengan peningkatan peristaltik usus, defekasi sering dan berair, nyeri abdomen.

2. Gangguan keseimbangan cairan (dehidrasi) berhubungan dengan intake kurang daripada output, kehilangan berlebih pada sistem GI melalui feses yang cair dan muntah ditandai dengan turgor kulit buruk, membran mukosa pucat, TTV tidak stabil (takikardi, hipotensi dan demam).

3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan absorpsi nutrien dan anoreksia, status hipermetabolik ditandai dengan penurunan berat badan, peningkatan bunyi usus, konjungtiva dan membran mukosa pucat, menolak untuk makan.

4. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan defisit volume cairan ditandai dengan turgor kulit buruk, iritasi kulit daerah perianal, kulit kemerahan.

5. Ansietas berhubungan dengan psikologis berkaitan dengan proses penyakit ditandai dengan gelisah, takikardi, ketakutan, tidak kooperatif.

6. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan invasi mikroorganisme pada saluran GI.

7. Potensial komplikasi syok hipovolemik.

(Doengoes, Marilynn E, dkk, 2000).

C. INTERVENSI KEPERAWATAN

1. Diagnosa Keperawatan I

a. Tujuan:

- Bising usus dan peristaltik normal 5 – 35 kali per menit.

- Defekasi normal 1 kali per hari atau 2 kali per hari.

- Konsistensi feses padat dan lunak.

b. Intervensi:

Mandiri:

- Observasi dan catat frekuensi defekasi, karakteristik, jumlah dan faktor pencetus.

Rasional

:

Membantu membedakan penyakit individu dan mengkaji beratnya episode.

- Tingkatkan tirah baring, berikan alat-alat disamping tempat tidur.

Rasional

:

Istirahat memutuskan motilitas usus juga menurunkan laju metabolisme.

- Buang feses dengan cepat, berikan pengharum ruangan.

Rasional

:

Menurunkan bau tidak sedap untuk menghindari malu pasien.

- Identifikasi makanan dan cairan yang mencetuskan diare, misalnyasayuran segar dan buah, sereal, bumbu, minuman karbonat, produk susu.

Rasional

:

Menghindari iritan, meningkatkan istirahat usus.

- Mulai lagi pemasukan cairan per oral secara bertahap. Tawarkan minuman jernih tiap jam, hindari minuman dingin.

Rasional

:

Memberikan istirahat kolon dengan menghilangkan atau menurunkan rangsang makanan/cairan.

- Observasi demam, takikardi, letargi, leukosit, ansietas dan kelesuan.

Rasional

:

Mengidentifikasi adanya proses infeksi/peradangan.

Kolaborasi

- Kolaborasi pemberian obat antikolinergik

Rasional

:

Menurunkan motilitas/peristaltik GI dan menurunkan sekresi digestif untuk menghilangkan kram dan diare.

2. Diagnosa Keperawatan II

a. Tujuan:

- Masalah dehidrasi dapat teratasi/keseimbangan cairan pasien adekuat.

- Turgor kulit baik.

- Membran mukosa baik/lembab.

- TTV stabil.

b. Intervensi

- Awasi masukan dan haluaran, karakter dan jumlah feses, perkiraan kehilangan yang tak terlihat, misalnya: berkeringat, ukur berat jenis urine, observasi oliguria.

Rasional

:

Memberikan informasi tentang keseimbangan cairan, fungsi ginjal dan kontrol penyakit usus juga merupakan pedoman untuk penggantian cairan.

- Kaji TTV

Rasional

:

Hipotensi, takikardi, demam dapat menimbulkan/menunjukkan respon terhadap kehilangan cairan.

- Observasi kulit kering berlebihan dan membran mukosa, penurunan turgor kulit, pengisian kapiler lambat.

Rasional

:

Menunjukkan kehilangan cairan berlebihan/dehidrasi.

- Ukur berat badan tiap hari.

Rasional

:

Indikator cairan dan status nutrisi.

- Observasi perdarahan dan tes feses tiap hari untuk adanya darah samar.

Rasional

:

Diet tak adekuat dan penurunan absorbsi dapat menimbulkan defisiensi vitamin K dan merusak koagulasi, potensial resiko perdarahan.

Kolaborasi:

- Berikan cairan parenteral sesuai indikasi.

Rasional

:

Mempertahankan penggantian cairan untuk memperbaiki kehilangan.

- Awasi hasil laboratorium.

Rasional

:

Menentukan kebutuhan penggantian dan keefektifan terapi..

- Berikan obat sesuai indikasi.

Rasional

:

Menurunkan kehilangan cairan dari usus.

3. Diagnosa Keperawatan III

a. Tujuan: Pemenuhan kebutuhan nutrisi pasien adekuat.

b. Intervensi:

- Timbang berat badan tiap hari.

Rasional

:

Memberikan informasi tentang kebutuhan diet.

- Dorong tirah baring dan atau pembatasan aktifitas selama fase sakit akut.

Rasional

:

Menurunkan kebutuhan metabolik.

- Anjurkan istirahat sebelum makan.

Rasional

:

Menenangkan peristaltik dan meningkatkan energi untuk makan.

- Berikan kebersihan mulut.

Rasional

:

Mulut yang bersih dapat menyenangkan rasa makanan.

- Sediakan makanan dalam ventilasi yang baik, lingkungan yang menyenangkan dengan situasi tidak terburu-buru.

Rasional

:

Lingkungan yang menyenangkan menurukan stres dan lebih kondusif untuk makan.

- Catat dan temukan perubahan simptomatologi.

Rasional

:

Memberikan rasa kontrol pada pasien dan kesempatan untuk memilih makanan yang diinginkan/dinikmati, dapat meningkatkan masukan.

Kolaborasi:

- Pertahankan puasa sesuai indikasi.

Rasional

:

Istirahat usus menurunkan peristaltik dan diare dimana menyebabkan malabsorpsi/kehilangan nutrien.

- Tambahkan diet sesuai indikasi.

Rasional

:

Memungkinkan saluran usus untuk memaksimalkan kembali proses pencernaan.

- Berikan obat sesuai indikasi.

Rasional

:

Untuk mempercepat proses penyembuhan.

4. Diagnosa Keperawatan IV

a. Tujuan: Integritas kulit pasien adekuat dengan kriteria hasil:

- Turgor kulit baik.

- Iritasi kulit daerah perianal teratasi.

- Warna kulit daerah perianal sama dengan daerah sekitar.

b. Intervensi:

- Observasi kemerahan, pucat, ekskoriasi.

Rasional

:

Area ini meningkat resikonya untuk kerusakan dan memerlukan pengobata lebih intensif.

- Gunakan krim kulit 2 kali sehari setelah mandi.

Rasional

:

Melicinkan kulit dan menurukan gatal.

- Diskusikan pentingnya perubahan posisi sering, perlu untuk mempertahankan aktivitas.

Rasional

:

Meningkatkan sirkulasi dan perfusi kulit dengan mencegah tekaan lama pada jaringan.

- Tekankan pentingnya masukan nutrisi/cairan adekuat.

Rasional

:

Perbaikan nutrisi dan hidrasi akan memperbaiki kondisi.

5. Diagnosa Keperawatan V

a. Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan, ansietas pasien hilang, dengan kriteria hasil:

- Pasien tidak gelisah.

- Denyut nadi normal.

- Ketakutan berkurang/hilang.

- Kooperatif.

b. Intervensi:

Mandiri

- Catat petunuk perilaku, misalnya gelisah, peka rangsang, menolak, kurang kontak mata, perilaku menarik perhatian.

Rasional

:

Merupakan indikator derajat ansietas atau stres.

- Dorong menyatakan perasaan, berikan umpan balik.

Rasional

:

Membantu pasien/orang terdekat dalam mengidentifikasi masalah yang menyebabkan stres.

- Akui bahwa ansietas dan masalah mirip dengan yang diekspresikan orang lain.

Rasional

:

Validasi bahwa perasaan normal dapat membantu menurunkan stres.

- Berikan informasi yang akurat dan nyata tentang apa yang dilakukan.

Rasional

:

Keterlibatan pasien dalam perencanaan keperawatan memberikan rasa kontrol dan membantu menurunkan ansietas.

- Berikan lingkungan yang tenang dan istirahat.

Rasional

:

Memindahkan pasien dari stres.

- Dorong pasien/orang terdekat untuk menyatakan perhatian.

Rasional

:

Tindakan dukungan dapat membantu pasien merasa stres berkurang memungkinkan energi untuk ditujukan pada penyembuhan.

Kolaborasi:

- Berikan obat sesuai indikasi.

Rasional

:

Untuk mempercepat proses penyembuhan.

6. Diagnosa Keperawatan VI

a. Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan, diharapkan tidak muncul infeksi, dengan kriteria hasil:

- TTV stabil.

- Tidak ada tanda-tanda infeksi.

b. Intervensi:

- Tempatkan pasien di ruang isolasi.

Rasional

:

Tindakan ini dapat mengurangi resiko penyebaran infeksi.

- Sediakan tempat cuci tangan khusus.

Rasional

:

Mengurangi spread infection.

- Sediakan pispot untuk BAB pasien.

Rasional

:

Mencegah feses berserakan.

- Hindarkan infant dan anak kecil memegang benda atau tempat diare yang terkontaminasi.

Rasional

:

Mencegah penyebaran infeksi.

- Instruksikan keluarga untuk selalu melakukan practise isolation khususnya mencuci tangan.

Rasional

:

Mencegah penyakit..

D. EVALUASI

1. Diagnosa Keperawatan I

- Bising usus dan peristaltik normal.

- Defekasi normal 1 kali sehari.

- Konsistensi feses padat dan lunak.

2. Diagnosa Keperawatan II

- Masalah dehidrasi pasien teratasi.

- Turgor kulit baik.

- Membran mukosa lembab.

- TTV stabil.

- Balance intake output.

3. Diagnosa Keperawatan III

- Berat badan normal sesuai umur.

- Nafsu makan baik.

- Bising usus menurun.

4. Diagnosa Keperawatan IV

- Turgor kulit baik.

- Iritasi kulit daerah perianal teratasi.

- Warna kulit daerah periaal sama dengan sekitar.

5. Diagnosa Keperawatan V

- Pasien tidak gelisah.

- Denyut nadi normal.

- Kekakuan berkurang/hilang.

- Kooperatif.

6. Diagnosa Keperawatan VI

- TTV stabil.

- Tidak ada tanda-tanda infeksi.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, S. (2001). Manajemen sumber daya manusia. Edisi pertama. Jakarta: EGC.

Doengoes, Marilynn E., dkk. (2000). Rencana asuhan keperawatan pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta: EGC.

Greenberg, S.C. (1998). Nursing care planning guides for children. California: Colliams and Williangs.

Mansjoer, Arif, dkk. (1999). Kapita selekta kedokteran. Edisi ketiga, jilid I. Jakarta: Media Aesculapius FKUI.

Ngastiyah. (1997). Perawatan anak sakit. Jakarta: EGC.

Sowden, Bets. (2000). Pediatric nursing referensi, 4th edition, Louis Philadelphia. London: by Mosby.

Sulaiman, Alih, dkk. (1997). Gastroenterologi hepatologi. Jakarta: Agung Seto.

Wong & Whalley. (1999). Nursing care of infant and children. Sidney: Tokyo Toraja.