(Studi pada Akseptor KB Pria di Puskesmas I Sokaraja)

Widyo Subagyo1 Mukhadiono2

ABSTRACT

Problems that happened in KB Program among other things is lowering participate of man. Man participation in KB for about 5 percent. This matter is met in work area of Puskesmas I Sokaraja, including 10 countryside. This research aim to to express the factors causing to lowering enthusiasm of man KB acceptor use MOP contraception in Puskesmas I Sokaraja
Research design used descriptive survey. Research population is man KB acceptor besides MOP in Villages of Karangrau, Sokaraja Tengah and Pamijen. Sampling technique used proportional random sampling.
Factors causing to lowering of enthusiasm of man acceptor KB use the MOP contraception in Puskesmas I Sokaraja covering 5 ( five) factors, that is cultural factor (religion norm), loweing knowledge about MOP, fear / worry to become permanent barren and loss of enthusiasm and also sexual ability, cost, and combination of age ā€“ coitus frequency. From its five factors, cultural factor is dominant because becoming the reason of responder majority.
Key word : Contraception, Family Planning, MOP.

1.2. Prodi Keperawatan Purwokerto, Poltekkes Semarang.

PENDAHULUAN
Pertumbuhan penduduk Indonesia yang masih tinggi perlu dikendalikan, salah satunya dengan Program Keluarga Berencana. Keluarga Berencana adalah salah satu di antara lima matra kependudukan yang sangat mempengaruhi perwujudan penduduk yang berkualitas (Saefudin, 2003).
Program KB secara nyata telah memberikan manfaat positif terhadap laju pertumbuhan penduduk. Jumlah penduduk yang semula diprediksi mencapai 287 juta tahun 2000, dengan program KB dapat ditekan menjadi hanya 207 juta. Ini berarti terjadi kelahiran tertunda (birth averted) sebesar 80 juta penduduk selama 30 tahun. Kelahiran tertunda sebanyak itu merupakan jumlah yang sangat bermakna bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia untuk menghemat anggaran pembangunan. (BKKBN, 2006)
Permasalahan yang terjadi dalam Program KB diantaranya adalah rendahnya partisipasi kaum pria. Kesertaan pria dalam ber-KB lebih kurang 5 persen. Bila dibandingkan dengan partisipasi pria di negara-negara Islam seperti Pakistan (5,2 persen), Bangladesh (13,9 persen), dan Malaysia (16,8 persen) maka Indonesia menempati angka paling rendah partisipasi prianya dalam ber-KB (BKKBN, 2006).
Fenomena rendahnya partisipasi pria dalam KB juga dijumpai di wilayah kerja Puskesmas I Sokaraja, yang mencakup 10 desa. Data yang diperoleh dari Puskesmas I Sokaraja menunjukkan bahwa akseptor KB Mantap MOP selama tahun 2004-2008 mengalami stagnasi. Sejak tahun 2005 hingga 2008 praktis tidak ada penambahan Peserta KB Kontrasepsi Mantap MOP.
Permasalahan dalam penelitian ini difokuskan pada faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya minat akseptor KB pria menggunakan kontrasepsi MOP di Puskesmas I Sokaraja. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengungkap faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya minat akseptor KB pria menggunakan kontrasepsi MOP di Puskesmas I Sokaraja.

METODOLOGI PENELITIAN
Desain penelitian ini menggunakan metode survai deskriptif. Peneliti dalam hal ini menghimpun fakta, namun tidak melakukan pengujian hipotesa (Singarimbun dan Effendi, 1989; Faisal, 1992). Populasi penelitian ini adalah akseptor KB pria selain MOP di Desa Karangrau, Sokaraja Tengah dan Pamijen. Pemilihan responden menggunakan teknik proportional random sampling. Jumlah sampel yang diambil dari masing-masing desa sebanyak 25 orang akseptor sehingga total sampel sebanyak 75 orang.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Temuan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya minat akseptor KB pria menggunakan kontrasepsi MOP di Puskesmas I Sokaraja meliputi 5 (lima) faktor, yang dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Faktor budaya. Alasan ini merupakan faktor dominan karena dinyatakan oleh 42 (56%) responden. Nilai budaya di sini menyangkut nilai agama, bahwa MOP dilarang oleh agama karena penggunaan metode ini dipersepsikan sama halnya dengan menolak rejeki/ anugerah dari Tuhan sehingga melanggar norma agama. Bahkan ada sebagian responden yang dengan tegas menyatakan bahwa MOP haram menurut keyakinan agamanya.
2. Minimnya pengetahuan tentang MOP. Hal ini dinyatakan oleh 16 (21,3%) responden. Responden menyatakan tidak banyak mengetahui mengenai MOP, sehingga tidak mau menggunakan metode ini.
3. Takut/khawatir, yang dinyatakan oleh 9 (12%) responden. Ketakutan ini dipicu oleh kekhawatiran menjadi mandul secara permanen, walaupun sudah menghentikan penggunaan metode MOP. Padahal responden masih muda dan beberapa tahun ke depan ingin punya anak lagi. Kekhawatiran yang lain adalah kekhawatiran hilangnya gairah dan kemampuan seksual sehingga tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan isteri.
4. Faktor biaya, yang dinyatakan oleh 6 (12%) responden. Mereka khawatir penggunaan metode ini membutuhkan biaya besar karena harus melalui tindakan operasi. Terlebih lagi operasi dapat dilakukan dua kali, pertama ketika menggunakan metode MOP dan kedua ketika menghentikan penggunaan metode ini.
5. Kombinasi umur ā€“ frekuensi coitus, yang dinyatakan oleh 2 responden (2,7%). Responden ini usianya 46 dan 47 tahun. Responden merasa sudah tua dan sudah jarang sekali melakukan hubungan intim dengan istrinya. Oleh karena itu responden tidak merasa perlu menggunakan metode MOP. Responden lebih memilih metode coitus interuptus.
Hasil penelitian tersebut di atas sejalan dengan pendapat Palmore dan Bultoa (Singarimbun, 2004) yang menyatakan faktor dalam pemilihan kontrasepsi antara lain yaitu ongkos, dan faktor sosial budaya. Demikian pula dengan faktor yang mempengaruhi mengenai pemilihan metode kontrasepsi menurut WHO (1994) antara lain adalah :
a. Faktor individu antara lain usia, usia muda, frekuensi koitus.
b. Faktor ekonomi dan kemudahan memperolehnya.
c. Faktor budaya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pemilihan kontrasepsi menurut Hartanto (2003) faktor tersebut antara lain faktor pasangan yang berhubungan dengan umur, frekuensi senggama, jumlah keluarga yang diinginkan, faktor metode kontrasepsi yang berhubungan dengan efek samping minor, kerugian, komplikasi-komplikasi yang potensial, dan biaya.
Dominannya faktor budaya berupa nilai agama sesuai dengan konsep menurut WHO (1994) bahwa agama dan kepercayaan juga dapat mempengaruhi orang dalam pemilihan metode kontrasepsi karena adanya aturan yang ditetapkan dalam ajaran yang dianut. Dalam hal ini tubektomi masih dianggap sesuatu yang tidak diperbolehkan kecuali dalam keadaan darurat.
Hasil penelitian ini juga memperkuat hasil penelitian terdahulu, seperti yang dilakukan Wahyuni (2005) bahwa faktor-fakor yang menghambat Pasangan Usia Subur memilih Tubektomi di wilayah Kerja Puskesmas Pengasih I meliputi kurangnya informasi tentang tubektomi dan tarif pelayanan merupakan faktor penghambat PUS memilih tubektomi sebagai alat kontrasepsinya.

SIMPULAN DAN SARAN
Faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya minat akseptor KB pria menggunakan kontrasepsi MOP di Puskesmas I Sokaraja meliputi 5 (lima) faktor, yaitu faktor budaya (nilai agama), minimnya pengetahuan tentang MOP, takut/khawatir menjadi mandul permanen dan hilangnya gairah serta kemampuan seksual, biaya, dan kombinasi umur ā€“ frekuensi coitus. Dari kelima faktor tersebut, faktor budaya bersifat dominan karena menjadi alasan mayoritas responden.
Berasarkan hasil penelitian maka sosialisasi tentang hal-ikhwal metode MOP perlu untuk lebih diintensifkan, serta adanya subsidi atau bahkan pembebasan biaya untuk menggunakan metode MOP untuk memacu minat akseptor.

KEPUSTAKAAN

BKKBN dan UNFPA, 2006, Buku Sumber untuk Advokasi Keluarga Berencana, Kesehatan Reproduksi, Gender, dan Pembangunan Kependudukan, BKKBN Pusat, Jakarta.
BKKBN, 2006, Pedoman Materi KIE Keluarga Berencana, BKKBN Pusat, Jakarta.
Hartanto, Hanafi. 2003. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Sinar Pustaka Harapan, Jakarta.
Saefudin, A.B. 2003. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.
Singarimbun, Masri, 2004, Penurunan Angka Kelahiran; Aspek-aspek Program dan Sosial Budaya, http://aceh.wasantara.net.id/bkkbn/kontap.htm.
Wahyuni, Eko Sri, 2005, Faktor-faktor yang Menghambat Pasangan Usia Subur Memilih Vasektomi di Wilayah Kerja Puskesmas Pengasih I Kecamatan Pengasih Kabupaten Kulon Progo, Prodi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran, UGM, Yogyakarta. Skripsi. Tidak dipublikasikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s